Polwan cantik di upacara bendera

Dua pekan berturut turut SMAN 3 mendatangkan pembina upacara dari luar sekolah. Senin lalu tanggal 7 September 2015, Kepala Dinas Pendidikan Kota Sorong, Dra.Hermin.S.Matandung,M.MPd menjadi pembina upacara. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa SMAN 3 Kota Sorong mendapat predikat sebagai induk klaster penerapan K13 di Kota Sorong. Oleh karena itu Kepala Dinas menghimbau agar seluruh komponen yang ada di SMAN 3 harus bekerja lebih giat lagi. Pada hari Senin 14 September 2015, pembina upacara berasal dari Polresta Sorong. Bripka Irma Mayasari,SKM seorang polwan pada bagian kesehatan di Polresta Sorong  menjadi pembina pembina upacara. Saat itu Bripka Irma idampingi Brigadir Dianita R,SH polwan pada bagian intel Polresta Sorong. Dalam sambutannya, Bripka Irma membacakan sambutan tertulis Kapolda Papua Barat Brigjen Royke Lumowa dalam rangka HUT POLWAN  ke 67 yang jatuh pada tanggal 1 September lalu. Seolah ada ikatan batin, pemimpin upacara dan juga petugas yang lain didominasi oleh kaum perempuan. Pemimpin upacara adalah Briandina Nevy Tahera dari kelas XII IPA1 tampil memukau dengan suara yang lantang.   Tim paskibra terdiri dari Rivaldo van Harling, Dian Apriyanto Kiding Allo keduanya dari kelas XII IPA2, Mecu Saleo dari kelas IPS3. Andai bendera dikibarkan oleh paskibra putri, ajudan dan pengatur upacara, pemain keyboard  juga putri akan terlihat seperti upacara peringatan hari Kartini

Sosialisasi Tata Tertib

Dalam rangka penerapan beberapa kebijakan baru yang dicanangkan sekolah, maka perlu diadakan pertemuan dengan orang tua/ wali siswa. Mengingat kapasitas aula yang belum memadai, pertemuan dilaksanakan dua kali. Pada minggu lalu tanggal 5 September telah dilaksanakan pertemuan dengan orang tua wali siswa kelas X dan pada hari Sabtu tanggal 12 September diadakan pertemuan dengan orangtua wali kelas XI ,XII. Selain kepala sekolah, wakasek kesiswaan, wakasek humas, pertemuan ini juga dihadiri wali kelas XI dan kelas XII. Sebelum penjelasan kepsek, Ibu Naomi Elsiane,S.Pd (wakasek humas) memperkenalkan para wali kelas XI dan XII kepada orang tua murid. Tiga agenda yang dibahas yaitu tata tertib di sekolah, tata tertib berkendaraan dan rencana pembelian bis oleh komite. Kepala sekolah, Drs. J. Sagrim,MM dalam sambutannya mengatakan seringnya SMAN 3 mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak siswa seperti drumband,paduan suara sehingga membutuhkan bis sebagai alat transportasi. Adapun masalah tata tertib disampaikan wakasek bidang kesiswaan, Drs.D.K.R Wenas. Setiap hari Senin s/d Kamis seluruh siswa masuk jam 0715 – 13.45, untuk hari Jumat seluruh siswa masuk jam 07.15 – 11.30, khusus hari Sabtu kelas X masuk jam 07.15 – 12.15 sedang kelas XI,XII masuk jam 07.15- 13.45. Setiap hari senin diadakan upacara bendera dan hari-hari lain diadakan apel pagi dengan tujuan penumbuhan budi pekerti dan cinta tanah air. Kegiatan apel pagi diisi dengan menyanyikan lagu kebangsaan atau lagu nasional, dilanjutkan dengan berdoa bersama dipimpin seorang guru. Bagi siswa yang membawa motor , diharapkan untuk melengkapi dengan SIM dan STNK serta mematuhi aturan lalu lintas sehingga semua berjalan aman dan lancar.

Penumbuhan Budi Pekerti: berdoa dan lagu kebangsaan

Untuk lebih memantapkan motto SMAN 3 Kota Sorong “tampil beda’, mulai hari Selasa tanggal 1 September 2015 dan seterusnya diberlakukan peraturan baru yaitu seluruh siswa , Kepala Sekolah Guru-guru mapel terutama yang mengajar di jam pertama serta para Guru agama berkumpul di lapangan tengah untuk berdoa kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Tanah Papua. Untuk upacara bendera tetap dilaksanakan setiap hari Senin dan hari besar nasional. Pencanangan peraturan baru tersebut sejalan dengan himbauan Menteri Pendidikan agar para siswa,guru berdoa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya atau lagu nasional sebelum mulai pelajaran di pagi hari. Setiap penerapan peraturan baru pasti menimbulkan berbagai tanggapan, namun lama kelamaan, pada akhirnya hal tersebut akan menjadi suatu rutinitas, sama seperti upacara bendera. Dengan berdoa diharapkan penumbuhan  budi pekerti siswa akan semakin tinggi, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya atau lagu nasional diharapkan akan meningkatkan rasa cinta tanah air. Sehari sebelumnya, pada saat upacara bendera, Kepala SMAN 3 Drs.J.Sagrim,MM telah menerima piala Juara II Futsal dari Tim Futsal SMAN 3 Kota Sorong. Kemudian dilanjutkan pemberian hadiah bagi pemenang lomba gawang mini, lari karung, tarik tambang dalam rangka HUT SMAN 3. Adapun untuk lomba kebersihan kelas, untuk kelas X juara 1 diraih oleh kelas X MIA5, juara 2 diraih oleh kelas X MIA4, juara 3 diraih oleh kelas X MIA2. Untuk kela XI, juara 1 kelas XI MIA5,juara 2 kelas XI MIA4,juara 3 kelas XI MIA3. Untuk kelas XII, juara 1 diraih kelas XII MIA1,juara 2 diraih kelas XII MIA3 dan juara 3 diraih kelas XII MIA5.

Kerja keras, raih prestasi

Tema HUT ke 24 SMAN 3 Kota Sorong “Dengan semangat kerja keras kita wujudkan 3P (penampilan,pelayanan, prestasi) telah memacu semangat para siswa yang mewakili SMAN 3 Kota Sorong di ajang Lomba Teknologi Terapan RRI . Walau lomba tersebut dilaksanakan pada saat situasi Kota Sorong yang kurang kondusif, namun semangat mereka perlu diberi acungan jempol. Dua kelompok yang mewakili SMAN 3 yaitu.kelompok Miftha dengan mengusung karya “Pembangkit Listrik alternatif” dan kelompok Nabila dengan karyanya. Dalam mempersiapkan karya, dua kelompok ini dibimbing oleh Ibu jois Reppi,S.T. Menurut guru pembimbing, cukup banyak sekolah yang mendaftar, akan tetapi yang telah siap melalukan presentasi hanya 4 kelompok, dua kelompok dari SMAN 3 dan 2 kelompok dari SMA Averos. RRI menyiarkan secara langsung presentasi   karya dari tiap peserta lomba. Setelah presentasi, dewan juri menetapkan pemenang ke 1 adalah “ Pembangkit Listrik Alternatif” yang merupakan karya dari Muhammad Miftha Saputra,Daral Suraedi keduanya dari kelas X MIA 1, Arie Yudhi Setiawan dari kelas X MIA 4, serta Firas Akram Hilmy Ma’as dari kelas X MIA 6. Seminggu sebelumnya, Nabila Permata Cifa dari kelas X MIA 1. Juga membawa harum nama SMAN 3 Kota Sorong di ajang “Gathering Duta Sanitasi 2015 “ yang diselenggarakan Dinas PU Propinsi Papua Barat. Nabila ( alumnus SMPN 1 Kota Sorong) adalah Juara ke 2 lomba poster ajang Duta Santasi Papua Barat tahun 2014. Pada bulan Oktober, Nabila dan empat rekan lain, akan mewakili Propinsi Papua Barat di ajang Gathering Duta Sanitasi di jakarta. Bravo !

ULTAH DUA PULUH EMPAT, SMAN 3 HEBAT

Bertempat di lapangan tengah, acara puncak peringatan HUT SMAN 3 Kota Sorong ke 24 tanggal 27 Agustus 2015 telah selesai dilaksanakan. Beberapa undangan yang hadir adalah Kepala BRI Unit Lido dan beberapa staff, Astra motor Sorong, Ibu Laisina, Ibu Panjaitan serta beberapa alumni. Ketua Panitia HUT, Naomi Elsiane,S.Pd menyampaikan tujuan dilaksanakan acara tersebut, antara lain memupuk semangat kebersamaan dan kerjasama yang baik, membina tali silaturahmi dan meningkatkan aspek 3P (penampilan, pelayanan dan prestasi) serta meningkatkan rasa cinta kepada almamater. Dilanjutkan dengan sambutan Kepala SMAN 3 yang diwakili oleh PJS kepsek, Drs.D.K.R Wenas. Pak Wenas membacakan SMS dari Kepsek,Drs.J.Sagrim,MM. Beliau mengirim ucapan selamat HUT kepada Keluarga Besar SMAN 3 Kota Sorong, serta menyampaikan berita gembira bahwa SMAN 3 Kota Sorong kembali menyandang predikat sebagai sekolah model. Pada kesempatan berbahagia ini, Paduan suara SMAN 3 kembali tampil memukau dengan membawakan dua buah lagu dari daerah Batak “Sik sik si batu manikam” dan lagu dari daerah Papua “ Toki tifa” Pada perayaan HUT ke 24 SMAN 3, Astra Sorong mengadakan “Honda Talent” untuk memberi kesempatan bagi para siswa menampilkan bakat seni mereka, diantaranya, lagu Rap, tarian dl. Keluar sebagai pemenang adalah tarian Papua yang menceritakan tentang perdamaian. Astra Motor juga menyediakan servis gratis bagi Keluarga Besar SMAN 3 yang memakai motor Honda.

Jurnal Pendidikan oleh Dra.Cory Toisuta

Penerapan Metode STAD Pada Materi Teori Evolusi Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota sorong Tahun Pelajaran 2013/2014.

 

ABSTRAK

Cory Toisuta

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.

Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah metode STAD terhadap motivasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong? (b) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan diterapkannya pembelajaran metode STAD?

Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: (a) Ingin mengetahui pengaruh metode STAD terhadap motivasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong. (b) Ingin mengetahui pengaruh peningkatan prestasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan diterapkannya pembelajaran metode STAD.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong Tahun Pelajaran 2013/2014. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.

Dari hasil analis didapatkan bahwa Metode STAD mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong tahun pelajaran 2013/2014 yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan prestasi belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu yaitu siklus I (68,75%), siklus II (84,37%) dan siklus III (90,62%).

Kata Kunci: Metode STAD, Prestasi, Biologi.

 

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya globalisasi menuntut sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jaman. Pendidikan merupakan suatu upaya dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan keterampilan sesuai tuntutan pembangunan bangsa, dimana kualitas suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Maka upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai secara optimal, dengan pengembangan dan perbaikan terhadap komponen pendidikan perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidiakan nasional.

Proses pembelajaran di kelas saat ini masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian metode pembelajaran ceramah menjadi pilihan utama dalam proses pembelajarannya, sehingga seringkali proses belajar dan prestasi belajar yang diraih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan potensi yang dimiliki siswa atau metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif, sehingga dapat mengubah proses pembelajaran yang bersifat berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered) yang memberikan dampak positif pada potensi dan kompetensi siswa.

Hingga saat ini dalam pelaksaanan pembelajaran khususnya mata pelajaran Biologi masih disampaikan dengan metode ceramah (metode pembelajaran konvensional) sebagai metode yang lebih dominan diterapkan dari pada metode yang lain, sedangkan siswa mendengarkan apa yang diucapkan oleh guru serta mencatat hal yang dianggap penting oleh siswa tersebut dan kurang diberi kebebasan untuk mengungkapan pendapatnya terhadap materi yang diajarkan.

Penerapan sistem pembelajaran konvensional secara terus-menerus tanpa variasi tersebut dapat menjadi kendala dalam pembentukan pengetahuan secara aktif khususnya dalam mata pelajaran Biologi. maka diperlukan variasi dan kreatifitas dalam metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif Metode STAD pada mata pelajaran Biologi . Sehingga penerapannya di dalam kelas akan tercipta suasana belajar siswa aktif yang saling komunikasi, saling mendengar, saling berbagi, saling memberi dan menerima.

Berdasarkan uraian di atas, judul yang diambil oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Penerapan Metode STAD Pada Materi Teori Evolusi Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota sorong Tahun Pelajaran 2013/2014.

 

Kajian Pustaka

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologis pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas.

Model pembelajaran digunakan dalam strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah konsep dasar yang melingkupi metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

Model STAD merupakan sebuah sistem kerja sama antar siswa yang dikoordinasikan dalam bentuk kelompok kecil yang heterogen saling bekerja sama satu sama lain untuk melaksanakan tugas demi tercapainya tujuan bersama. Suatu pembelajaran kelompok tidak bisa dikatakan kooperatif jika hanya satu orang dari kelompok yang dibebankan untuk menyelesaikan tugas kelompok. Tidak pula kooperatif jika setiap anggota kelompok bekerja sendiri-sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang dibebankan kepada kelompok.

STAD mengedepankan adanya suatu kerjasama antar individu yang memiliki keberagaman di dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah yang dibebankan kepada kelompok. Siswa secara bersama-sama saling berinteraksi satu sama lain guna menyelesaikan masalah kelompok, sehingga maju dan berhasil secara bersama-sama.

 

  1. Ciri-ciri Model Pembelajaran.
  2. Model pembelajaran disusun berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
  3. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
  4. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
  5. Memiliki perangkat bagian model yang dinamakan (1) syntax; (2) prinsip relasi; (3) sistem sosial; dan (4) sistem pendukung. Keempat bagian model ini merupakan pedoman praktis untuk guru.

Dampak pembelajaran adalah hasil belajar yang dapat diukur secara langsung. Dari pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa ciri-ciri model pembelajaran yang telah disusun oleh para ahli sangat beragam dan sistematis dan dapat dijadikan pedoman untuk kegiatan pembelajaran yang memiliki dampak sebagai terapan model pembelajaran.

 

  1. Jenis-jenis Model Pembelajaran.
    1. Model berfikir induktif, adalah pola belajar-mengajar yang dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif. Model ini juga bermanfaat untuk mengajar berfikir ilmiah, dalam arti mengolah fakta sampai dengan pembentukan teori.
    2. Model synectics, adalah pola belajar-mengajar yang dirancang untuk melatih siswa mengembangkan keterampilan masalah secara kreatif, dan kreativitas pribadi.

 

  • Model Pembelajaran Kooperatif.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.

STAD (Student Team Achievement Divisions) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh Robert Slavin karena mudah diaplikasikan dalam kelas. Ide dasar STAD adalah bagaimana memotivasi siswa dalam kelompoknya agar mereka dapat saling mendorong dan membantu satu sama lainnya dalam menguasai materi yang disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna dan menyenangkan.

Pelaksanaan pembelajaran dengan metode kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions) Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995) meliputi: (1) membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain), (2) guru menyajikan pelajaran, (3) guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya, sampai semua anggota dalam kelompoknya mengerti. (4) guru memberikan kuis atau pertanyan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. (5) memberikan evaluasi dan kesimpulan.

Di sini juga dijelaskan tahap-tahap pembelajaran kooperatif model STAD yaitu: (1) penyajian kelas, 2) belajar kelompok, 3) tes atau kuis, 4) skor kemajuan individu, dan 5) penghargaan kelompok.

 

  • langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan metode kooperatif model STAD (Student Team Achievement Divisions):
  1. Penyajian kelas, yaitu penyampaian materi secara klasikal oleh guru tentang materi yang akan dipelajari oleh siswa. Penyajian ditekankan pada materi yang akan dibahas saja. Selanjutnya siswa disuruh belajar dalam kelompok kecil untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
  2. Belajar kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa secara heterogen yang memiliki kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda.
  3. Kuis atau tes, setelah belajar kelompok diadakan tes akhir siklus untuk mengukur kemampuan belajar siswa terhadap materi yang dipelajari. Tes dikerjakan secara individu dan tidak diperbolehkan kerjasama. Skor tes digunakan untuk melihat perkembangan kemajuan belajar siswa. Skor kuis atau tes menunjukkan seberapa besar sumbangan siswa bagi kesuksesan kelompoknya, Sebab skor yang diperoleh akan dihitung sebagai nilai kemajuan individu.
  4. Skor kemajuan individu diperoleh dengan cara membandingkan skor tes individu pada siklus I dan II. Dalam penelitian ini skor tes sudah dinyatakan dalam nilai.
  5. Penghargaan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok dengan melihat skor kelompok. Penghargaan dapat berupa hadiah atau predikat kelompok terbaik.

Dalam STAD semua siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih keberhasilan, karena semua anggota kelompok mempunyai kesempatan mengkontribusikan nilai pada kelompok sebagai hasil peningkatan kemampuan dari waktu sebelumnya. Jadi, tuntutan yang diminta pada setiap siswa adalah perlunya selalu meningkatkan kemampuannya dari waktu ke waktu. Pada awal-awal pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD diperlukan adanya diskusi dengan siswa tentang ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam kelompok kooperatif.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menunjukkan tanggung jawab terhadap kelompoknya, misalnya:

  1. Setiap kelompok memiliki tanggung jawab untuk mempelajari materi.
  2. Tidak seorangpun menghentikan belajar sampai semua anggota kelompok tuntas mempelajari untuk menguasai materi.
  3. Meminta bantuan kepada anggota kelompok sebelum menanyakan kepada guru.
  4. Setiap anggota kelompok harus berbicara dengan sopan satu sama lain, saling menghormati dan menghargai.

Pembelajaran model STAD ini menempatkan siswa dalam tim belajar yang beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut prestasi, dan jenis kelamin. Metode ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dibanding dengan metode yang lain, karena dalam pelaksanaan metode STAD seorang guru dituntut untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa dalam tiap minggunya, baik melalui pengajaran verbal maupun tertulis. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan dalam setiap tim memiliki anggota yang heterogen. Tiap anggota tim saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim.

 

  • Keunggulan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu :
    1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
    2. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
    3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
    4. Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya.
    5. Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
    6. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat oranglain.
  • Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu: kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan gaya-gaya mengajar berbeda.

 

Materi Biologi

  • Evolusi

Evolusi adalah suatu perubahan pada makhluk hidup yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama sehingga terbentuk spesies baru. Sedangkan, berdasarkan ilmu biologi, evolusi merupakan cabang biologi yang mempelajari sejarah asal-usul makhluk hidup dan keterkaitan genetik antara makhluk hidup satu dengan yang lain. Evolusi biologi mencakup dua peristiwa, yaitu:

  • evolusi anorganik merupakan evolusi mengenai asal-usul makhluk hidup yang ada di muka bumi, berdasarkan fakta dan penalaran teoritis;
  • evolusi organik (evolusi biologis) merupakan evolusi filogenetis, yaitu mengenai asal-usul spesies dan hubungan kekerabatannya.

 

Hubungan Berbagai Ilmu dengan Evolusi

Pemahaman evolusi didukung oleh cabang-cabang ilmu lain, di antaranya: Paleontologi (ilmu yang mempelajari fosil),geologi, morfoloi, anatomi, embriologi, biokimia, dan genetika.Misalnya, geologi, ilmu yang mempelajari susunan dan struktur batu-batuan dapat menjelaskan umur suatu fosil yang ditemukan pada struktur batuan tertentu.

  1. Penyebab Terjadinya Evolusi
    1. Adaptasi dan seleksi alam

Lingkungan selalu berubah dari waktu ke waktu. Perubahan lingkungan mendorong makhluk hidup yang tinggal di dalam lingkungan tersebut melakukan adaptasi atau penyesuaian diri. Adaptasi dilakukan makhluk hidup dengan tujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Apabilagagal beradaptasi, maka makhluk hidup tersebut akan punah. Makhluk hidup adaptif merupakan makhluk hidup yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya. Contohnya, populasi kupu-kupu Biston betularia di Inggris.

Adaptasi pada tumbuhan, misalnya kaktus yang hidup pada kondisi panas terik di gurun mempunyai lapisan lilin yang tebal, daun-daunnya mengalami modifikasi menjadi duri atau daun-daun kecil untuk mengurangi penguapan air. Batang tumbuhan kaktus mampu menyimpan air dan memiliki klorofil untuk fotosintesis. Akar tumbuhan kaktus tersebar meluas di bawah permukaan tanah untuk mempermudah penyerapan air.

  • Penyebab Terjadinya Evolusi
    1. Adaptasi dan seleksi alam.
    2. Seleksi buatan.
  • Teori evolusi
  1. Teori Skala Alami dan Teologi Alam.
  2. Teori Evolusi darwin.
  3. Teori Evolusi Lamarck dan Weismann.

 

 

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Menurut Sukidin dkk (2002:54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan, yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif, dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental.

Dalam penelitian ini menggunakan guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

Penelitian ini bertempat di Sekolah SMA Negeri 3 Kota Sorong yang dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2014, semester Genap dengan subyek penelitian adalah siswa-siswi SMA Negeri 3 Kota Sorong Kelas XII IPA 4 tahun pelajaran 2013/2014.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.

  1. Merekapitulasi hasil tes
  2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.
  3. Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

 

Hasil

Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65.

  1. Siklus I

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran STAD, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 16-23 Januari 2014 di Kelas XII IPA 4 jumlah siswa 32 siswa.. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan

Aspek-aspek yang mendapatkan kriteria kurang baik adalah memotivasi siswa, menyampaikan tujuan pembelajran, pengelolaan waktu, dan siswa antusias. Keempat aspek yang mendapat nilai kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan yang terjadi pada siklus I dan akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi dan revisi yang akan dilakukan pada siklus II.

Penerapan pembelajaran dengan Metode Pembelajaran STAD diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70,62 dan ketuntasan belajar mencapai 68,75% atau ada 22 siswa dari 32 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ³ 65 hanya sebesar 68,75% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran dengan Metode Pembelajaran STAD.

 

  1. Siklus II

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal tanggal 30 Januari-6 Februari 2014 di Kelas XII IPA 4 dengan jumlah siswa 32 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

Diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77,50 ketuntasan belajar mencapai 84,37% atau ada 27 siswa dari 32 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan pemahaman siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran dengan Metode Pembelajaran STAD.

  1. Siklus III

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Siklus III dilaksanakan pada tanggal 13-21 Februari 2014 di Kelas XII IPA 4 dengan jumlah siswa 32 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III.

Aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif STAD mendapatkan penilaian cukup baik dari pengamat adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.

Penyempurnaan aspek-aspek diatas dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif STAD diharapkan dapat berhasil semaksimal mungkin.

Diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 87,50 dan dari 32 siswa telah tuntas sebanyak 29 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 90,62% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan kemampuan berbicara pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran dengan Metode Pembelajaran STAD sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran, siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

 

Pembahasan
  1. Ketuntasan pemahaman Siswa

Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan Metode Pembelajaran STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 68,75%, 84,37%, dan 90,62%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

  1. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model pengajaran Metode Pembelajaran STAD dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

  1. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran

Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Biologi dengan model pengajaran Metode Pembelajaran STAD yang paling dominan adalah, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.

Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi /tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Metode STAD dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide dan pertanyaan. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kelompok, Sehingga Metode STAD mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong tahun pelajaran 2013/2014.
  2. Penerapan Metode STADmemiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Kota Sorong tahun pelajaran 2013/2014 yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (68,75%), siklus II (84,37%) dan siklus III (90,62%).

Saran

  • Untuk melaksanakan model pengajaran Metode STADmemerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran dengan Metode STAD dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
  • Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
  • Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMA Negeri 3 Kota Sorong tahun pelajaran 2013/2014.
  • Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

 

Kajian Pustaka

Arikunto, S. (2005), Manajeman Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA. [Online].Tersedia http://www. puskur.net]. [27 Agustus 2013].

Eggen, P dan Kauchak, D. (2013), Stategi dan Model Pembelajaran; Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berfikir: Jakarta: Indeks.

Hamalik O. (2003), Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

 

————– (1998), Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.

Isjoni (2009), Kooperatif Learning. Bandung : Alfabeta.

Karno, T. (1996), Mengenal Analisis Tes; Pengenalan ke Program Komputer Anates, Bandung: FIP. IKIP, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.

Kunaedi, J. (2006), Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Kooperatif Siswa, Bandung: FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Skripsi Tidak Diterbitkan.

Lie, A. (2007), Kooperatif Learning (Mempraktikkan Kooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas). Jakarta : Grasindo.

 

Moedjiono (1991), Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta.

 

Makmun, A.S. (2003), Psikologi Kependidikan; Perangkat Sistem Pengajaran Model, Cetaan keenam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Natawidjaya, R. dan Moesa, A. M. (1992/1993), Psikologi Pendidikan. Jakarta: Modul Universitas Terbuka.

Nazir, M. (1999). Metode Penelitian. Bogor : Ghalia.

 

Panggabean, L. (2000), Statistika Dasar, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, FPMIPA.

——————- (1996), Penelitian Pendidikan, Diktat Kuliah. Universitas Pendidikan Indonesia, FPMIPA.

Roestiyah, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Slavin, R.E. (2005). Kooperatif Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung : Nusa Media.

Subaktiningsih, Tri. 2007. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Tidak diterbitkan.

Sudjana N. (1987), Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Balai Pustaka.

————– (2005), Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Cetakan kedelapan. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

————– (1996), Metode Statistika, Bandung: Edisi Keenam, Nusa Media.

 

Kontingen SMANTI di Karnaval Budaya 2015

Rangkaian kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 70 di Kota Sorong masih berlanjut. Setelah panggung hiburan di halaman Kantor Walikota yang dimeriahkan artis Mitha Talahatu dan Vera Borneo, kini giliran Karnaval Budaya yang diikuti hampir semua sekolah yang ada di Kota Sorong. Start dari Mako Lanal di belakang Kantor Pos dan finish di halaman Kantor Walikota.Namun tahun ini dengan rute yang sedikit berbeda. Dari Lanal belok kiri dan keluar di Lampu Lalu Lintas di sekitar Kuda Laut, Saga dan seterusnya. Cuaca pun sangat berbeda dengan tahun lalu. Saat itu tahun 2014, Karnaval berlangsung dalam guyuran hujan lebat. Tahun ini Karnaval berlangsung di bawah terik matahari menyengat. Panasnya sinar matahari semakin menyulut semangat para Kontingen peserta Karnaval. Dengan mengusung tema “Dengan semangat proklamasi 17 Agustus 1945, kita tingkatkan semangat pembangunan dan pendidikan untuk Indonesia yang lebih maju” kontingen SMAN 3 Kota Sorong melangkah dengan mantap di urutan kedua setelah Kontingen Paskibra Kota Sorong. Kalau selama ini kita sering mendengar istilah ‘padat merayap’ pada liputan mudik di televisi, maka pada saat Karnaval Budaya situasi Kota Sorong benar-benar padat merayap. Untuk meminimalisir panas dan mengurangi debu mobil damkar menyiram jalan yang dilalui peserta karnval dengan air. Bapak Walikota, Ibu WaWali, Ibu Sekda dan pejabat di jajaran Kantor walikota telah menunggu di tribun kehormatan. Dengan dipandu MC terkenal Kota Sorong, Yongki Fonataba, suasana penyambutan kontigen terasa begitu menarik.

INFORMASI HASIL KELULUSAN CALON SISWA BARU TA. 2015 – 2016

PANITIA PPDB SMA NEGERI 3 KOTA SORONG

MENYATAKAN

Calon Siswa Baru Tahun Ajaran 2015-2016 yang resmi diterima, tertera pada daftar berikut:

Download Hasil Kelulusan Calon Siswa Baru

SEMUA SISWA DIHARAPKAN HADIR MENGGUNAKAN SERAGAM LENGKAP PADA HARI SABTU, 04 JULI 2015 , JAM 10.00 WIT BERTEMPAT DI SMA NEGERI 3 KOTA SORONG GUNA MENDENGARKAN PENGARAHAN DARI PANITIA DAN KEPALA SEKOLAH SEKALIGUS MENGAMBIL UNDANGAN UNTUK ORANG TUA SISWA.

TERIMAKASIH
TTD
PANITIA PPDB

INFORMASI KEGIATAN ALUMNI SMA NEGERI 3 KOTA SORONG

Ikatan Alumni SMA NEGERI 3 KOTA SORONG,akan mengadakan Acara reunian yang rencananya akan dilaksanakan selama seminggu full dari tanggal 20 s/d 26 Juli 2015. Untuk informasi lebih lanjut tentang acara dan kegiatan tersebut,silahkan menghubungi CP yang tertera di brosur.

Bagi Alumni yg mau menjadi sponsor atau Donatur untuk kegiatan tersebut,silahkan untuk menghubungi CP yang ada di brosur.

Terimakasih

 

Ttd, IKATAN ALUMNI SMA NEGERI 3 KOTA SORONG